WhatsApp : 0822 4287 4448 EMAIL : kaltimimsa@gmail.com :
Pelajar Islam Indonesia Kaltim
SHARE :

Selayaknya seorang pemain Mobile Legend

7
06/2020
Kategori : Opini
Komentar : 1 komentar
Author : Arief Pratama


Selayaknya seorang pemain Mobile Legend

Waktu itu jam sudah menunjukkan waktu 22.00, WhatsApp terus bergetar tanpa henti, akhirnya saya putuskan untuk membuka dan ternyata di salah satu grub sedang ada diskusi yang sangat menarik sekali, ya mungkin temanya sangat sederhana yaitu bagaimana strategi rekrutmen, khususnya di PII, akhirnya saya pun mengikuti diskusi tersebut dengan dibersamai lagu dari One Ok Rock yang berjudul One Ticket Home, yang rasanya malah ingin pulang dan beranjak dari tempat duduk café kopi, seakan-akan lagu tersebut membawa ke dalam nuansa indah di PII, tapi sekarang di kepengurusan baik buruknya harus kita nikmati.

Salah satu pembicara dari jogja melemparkan sebuah bahan diskusi, ya kita pasti taulah anak PII kalau diskusi tidak di mulai dengan brainstroming egk asik kan, dia menjelaskan tragedi yang terjadi baru-baru di twitter yaitu si fathur, iya si fathur yang menjadi tranding pencarian di twitter waktu itu, dia mempertanyakan apa sih yang bisa kita lihat dari sosok fathur ini, pasti teman-teman terbesit untuk ingin mengetahui lebih dalam kan entah background atau pendidikannya. Dan sama juga Ketika kita ingin kuliah diluar negeri pasti kita cari orang yang punya pengalaman dgn hal tersebut, dan hal tersebut pasti menyangkut tentang branding seseorang, dan audience dengan sendirinya pasti akan mencari tahu sendiri tentang branding pada personalnya.

Dan teman saya dari jogja melanjutkan nah… hal ini yang saya rasa, banyak ( tidak semua ) luput dari teman-teman kader.. Banyak kader dipaksa/terpaksa untuk mengorbankan capainnya karena ber PII. Sering tidak tepat meletakkan doktrin.

Akibatnya peran prestasi personal baik akademis dan non akademis terkorbankan. ( ini asumsi saya ) sehingga banyak kader tidak memiliki daya jual ke pelajar.

Atas hal tersebut, endorsement training hanya memampang tokoh-tokoh KB PII yang sudah jadi penjabat public, padahal hal tersebut sudah tidak relavan lagi untuk sekarang. Minimal jangan ada motivasi buta “PII merupakan sekolah kehidupan” dan mengesampingkan Pendidikan formalnya setiap kader. Dorong kader yang aktif untuk bisa berprestasi dengan potensi masing-masing. Baik akademis dan non akademis, sehingga mereka di lingkungan sekolah mereka sudah bisa endorse PII dengan sendirinya. Kurang lebih disini yang di maksud adalah dorong kader untuk berprestasi.

Masalah kedua adalah asumsi saya hingga saat ini, 70% lebih agenda structural PII sangat bergantung pada KB PII. Baik dana hingga sekedar pembicara. Banyak seminar, diskusi atau hal membutuhkan pemateri, asumsi saya mengatakan masih banyak juga yang bergantung kepada KB.

Bukan mengesampingkan KB tapi mencari peluang lain di luar. KB tetap, tapi jaringan tokoh juga perlu diperluas juga. Seperti teman-teman tahhu jika temen-teman undang pembicara, pasti pembicara juga akan membagikan pamphlet atau poster agenda tsb. Jika agenda tersebut hanya di isi KB ada kemungkinan tersebar hanya di kalangan PII saja, kalau missal kita undang Nissa Sabyan , pasti fansnya sedikit banyak akan cari tahu apa itu PII yang ngundang dia.

Nah begitupula dengan bentuk kegiatan lain, bisa diusahakan untuk menggaet instansi lain yang sekiranya bisa, mudah dan berpotensi untuk Kerjasama dan ada keuntungan juga bagi PII.

Teman saya dari bali pun juga ikut nyeletuk untuk sekarang emang kita terlalu monoton, dan terlalu stag di KB soal dana ini.

Teman saya dari jogja pun melanjutkan , Nah itu dia . . . . . missal kita masih membawa budaya aktivis tahun 90 an sudah gg relavan. Banyak kader yang jadi korban dalam hal ini . . . contoh : mungkin teman-teman sudah tau beberapa pengurus di PB maupun wilayah, study nya bagaimana?,  maaf banget bukan berarti merendahkan teman-teman yang lain atau gimana, teman-teman tersebut merupakan korban doktrin yang tidak tepat Ketika di PII. Dari pandangan saya pribadi jangan sampai ada kawan-kawan kader kita studi formalnya tidak selesai dbs, hanya karena aktif di PII.

Dan saya pun pribadi juga menyeletuk untuk melengkapi daftar wilayah yang nyeletuk, saya memberikan pandangan hal seperti ini masih banyak terjadi, egk Cuma di kalangan PB, di wilayahpun sama, merelekan beberapa tahun untuk PII dan setelah selesai baru lanjut bersetudy, kalua egk kuat manajemen waktunya bisa membawa perasaan bener, dan efeknya setelah kepengurusan bisa jadi menghilang.

Dan kawan saya dari jogja pun membalas kalau seperti ini setelah selesai kepengurusan siapa yang menjamin?, pastinya dia sendiri, Mungkin KB bisa jadi privilege, tapi KB juga pilih-pilih yang prestasinya akademiknya bagus… PII memang bisa jadi hanya jadi sejarah hidupnya, dan sekali lagi PII bisa disalahkan karena tidak selesainya kader untuk study.

Kwan saya dari NTB pun ikut nyeletuk semakin lengkap sudah ada 4 wilayah yang ikut nyeletuk yaitu Jogja, Bali, kaltim dan NTB. Mungkin bisa kita pertimbangkan antara singa yang tumbuh di kebun binatang dan hutan belantara. Ngk bisa kita samakan cerita dan standar yang sama, sama halnya saat seseorang pelajar pesantren yang bilang pelajar sekolah umum yang tidak solehah dan soleh. Dan sebaliknya. Coba kita renungin dikit. Apa bisa anak pesantren tetap soleh dan soleh saat mereka sekolah di sekolah umum?. Tempat  kita berproses sedikit berbeda, zona terkadang menentukan. Dan kawan saya juga menambahkan kita terlalu banyak nuntut hapy ending, padahal banyak film yang akhir ceritanya masih ngambang, dan kita juga terlalu banyak menstandarkan sesuatu sesuai apa yang kita sukai. Tanpa sedikit peduli alasan apa dan kenapa.

Terkadang memang kita harus melihat prosesnya bukan hasilnya, karena di PII yang saya pahami adalah berproses bukan mencari hasil apalagi duit itu akan salah kaprah sekali.

Eitsss dahh bukannya kita terlalu jauh dgn topik awal, hahahha…. Ok kita Kembali ke topik awal bagaimana strategi rekrutment . . . .

Kawan saya dari jogja pun membalas, kalo kita pakai standar rekrutmen dengan idealisme yang fana, ya minim kader yang potensial masuk.. tetapi jangan dipungkiri banyak yang potensial tapi sedikit yang mandarah daging. Dan akhirnya PII hanya dijadikan sebagai batu loncatan. Poinnya adalah dorong kader untuk berprestasi di masing-masing potensinya.

Kawan saya dari NTB pun masuk, nah itu dia . . . push terus, siapa tau bisa jadi legend atau egk metic lah, saya pun menimpali sudah jarang main jadi kualahan sudah, hahaha, legend aja ngos-ngosan apalagi metic ya kan, dan kawan saya pun Kembali membalas eitsss,,, jgn salah walau lama jadi epic dan dikenang, poinya saat main Mobile Legend jangan langsung ingin push semalaman agar menjadi epic, pelan-pelan saja lah yang penting kita harus punya terget sembari mencari rekan-rekan yang bisa membantu kita berkembang, sama juga di PII semunya tentang berproses dari yang buruk menjadi lebih baik. Selamat menjadi pemain Mobile Legend di PII Kawan-kawan terus semangat untuk berproses.

Dan egk terasa waktu sudah menunjukkan jam 00.00, pantesan pemilik cafenya kok sudah mau rapi-rapi ternyata saya kemalaman toh di sini, hahahah,, dan saya pun sedikit heran kok lagu One Ok rock nya dari tadi sama terus ya One Ticket Home dari semenjak dua jam yang lalu, dan ternyata saya baru ingat pemutar youtubenya saya atur untuk terus-menerus mengulang lagu yang sama, hahaha.. Ok, terimakasih kawan-kawan semoga sedikit celotehan ini bermanfaat bagi kita semua dan organisasi kita tercinta, terus semangat berproses di PII kawan-kawan pelajar.

Berita Lainnya

10
06/2020
Desainer vs Tukang Desain
Author : Arief Pratama
7
06/2020


1 komentar

Maimunahw Afiah

Senin, 8 Jun 2020

Kereennnn banget siihh kaaaa wkwk

Balas

Tinggalkan Komentar